Calon pembeli disarankan tidak hanya melihat tampilan luar kendaraan. Periksa bagian karpet dasar, terutama di bawah lapisan pelindung. Jika ditemukan bercak lumpur halus, bekas garis air, atau karpet terasa kaku dan berbeda tekstur, bisa jadi mobil pernah terendam.
Bagian bawah dasbor juga perlu dicek. Area ini menyimpan banyak kabel dan modul elektronik penting. Bekas air biasanya meninggalkan jejak berupa karat pada baut, bracket, atau sambungan logam kecil.
Jok juga bisa menjadi petunjuk. Busa jok yang pernah terendam biasanya terasa lebih keras atau tidak kembali ke bentuk semula saat ditekan.
Risiko terbesar mobil listrik bekas banjir terletak pada sistem kelistrikan, termasuk sensor, modul kontrol elektronik (ECU), serta rangkaian kabel (wiring harness).
Air dapat menyebabkan oksidasi pada konektor dan sambungan kabel. Masalah ini sering kali tidak langsung terasa. Mobil mungkin masih bisa dinyalakan dan berjalan normal, tetapi gangguan seperti error pada panel instrumen, fitur mati mendadak, hingga penurunan performa dapat muncul kemudian.
“Kerusakan kelistrikan sering kali muncul bertahap. Awalnya terlihat normal, tapi beberapa bulan kemudian mulai muncul gangguan,” kata Lung Lung.
Komponen paling vital pada mobil listrik adalah baterai bertegangan tinggi. Sistem ini dirancang kedap air dengan standar tertentu. Namun jika kendaraan terendam dalam waktu lama atau melebihi batas aman, potensi kerusakan tetap ada.
Air yang masuk dapat merusak modul baterai, memicu korsleting, hingga meningkatkan risiko kebakaran. Selain itu, biaya penggantian baterai mobil listrik sangat mahal, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah tergantung model kendaraan.
Kerusakan baterai juga tidak selalu langsung terdeteksi. Penurunan kapasitas (degradasi) bisa terjadi lebih cepat dari seharusnya, membuat jarak tempuh kendaraan berkurang drastis.
Untuk menghindari risiko, calon pembeli sebaiknya meminta riwayat servis lengkap kendaraan. Pastikan mobil tidak pernah diajukan klaim asuransi akibat banjir.

Tinggalkan Balasan