Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak signifikan terhadap perilaku konsumen di Asia Tenggara. Kenaikan harga energi fosil mendorong banyak masyarakat untuk mempertimbangkan alternatif yang lebih efisien, salah satunya adalah beralih ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Fenomena ini terlihat jelas dari meningkatnya aktivitas di sejumlah dealer mobil listrik di kawasan ASEAN. Produsen seperti BYD dan VinFast dilaporkan mengalami lonjakan permintaan dalam beberapa pekan terakhir, seiring dengan naiknya harga minyak mentah global.

Menurut Chief Economist Asian Development Bank, Albert Park, kenaikan harga minyak secara historis memang menjadi faktor pendorong percepatan adopsi kendaraan listrik. Ia menjelaskan bahwa ketika biaya penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil meningkat, konsumen akan mencari alternatif yang lebih hemat dalam jangka panjang.

Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan pola pikir konsumen yang semakin rasional dalam mempertimbangkan biaya operasional kendaraan. Mobil listrik, meskipun memiliki harga awal yang relatif lebih tinggi, menawarkan biaya penggunaan yang lebih rendah karena tidak memerlukan bahan bakar minyak dan memiliki biaya perawatan yang lebih sederhana.

Dampak langsung dari tren ini terlihat di Manila, di mana salah satu dealer BYD mencatat peningkatan pesanan dalam dua pekan terakhir. Tenaga penjual setempat mengungkapkan bahwa banyak pelanggan yang sebelumnya menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak kini memutuskan untuk beralih ke mobil listrik sebagai langkah penghematan.

Situasi serupa juga terjadi di Hanoi. Salah satu pemilik showroom VinFast menyebutkan bahwa jumlah kunjungan pelanggan meningkat hingga empat kali lipat sejak konflik di kawasan Iran memanas. Lonjakan ini tidak hanya berdampak pada jumlah pengunjung, tetapi juga pada angka penjualan yang mengalami peningkatan signifikan dalam waktu singkat.